KEHAMILAN DENGAN PENYAKIT HERPES

BAB II
LANDASAN TEORI

A.      Pengertian
Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I atau tipe II yang ditandai adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan merah. Vesikel ini paling sering terdapat di sekitar mulut, hidung, daerah genital dan bokong, walaupun dapat juga terjadi di bagian tubuh lain. Penyakit ini menyebabkan kulit melepuh dan terasa sakit pada otot di sekitar daerah yang terjangkit. Hingga saat ini, penyakit ini masih belum dapat disembuhkan, tetapi dapat diperpendek masa kambuhnya.
B.      Epidemiologi
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dan menyerang baik pria dan wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi virus herpes simpleks tipe I biasanya dimulai pada usia anak-anak, sedangkan infeksi virus herpes simpleks tipe II biasanya terjadi pada usia dewasa dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual.
C.     Penyebab
Terdapat dua jenis virus herpes simpleks yang menginfeksi kulit yaitu HSV I dan HSV II
1.       HSV-1 merupakan penyebab dari luka di bibir (herpes labialis) dan luka di kornea mata (keratitis herpes simpleks); biasanya ditularkan melalui kontak dengan sekresi dari atau di sekitar mulut.
2.       HSV-2 biasanya menyebabkan herpes genitalis dan terutama ditularkan melalui kontak langsung dengan luka selama melakukan hubungan seksual.
D.     Patofisiologis
Kontak langsung antara seseorang yang tidak memiliki antigen terhadap HSV-II dengan seseorang yang terinfeksi HSV-II. Kontak dapat melalui membran mukosa atau kontak langsung kulit dengan lesi. Transmisi juga dapat terjadi dari seorang pasangan yang tidak memiliki luka yang tampak. Kontak tidak langsung dapat melalui alat-alat yang dipakai penderita karena HSV-II memiliki envelope sehingga dapat bertahan hidup sekitar 30 menit di luar sel.
HSV-II melakukan invasi melalui lapisan kulit yang tidak intake dan replikasi dalam sel-sel saraf seperti dalam sel epidermis dan dermis. Virus berjalan dari tempat masuk menuju ke ganglion dorsalis, dimana virus akan mengalami fase laten. Virus melakukan replikasi di ganglion sensoris dan menunggu untuk rekuren. Ketika seseorang yang terinfeksi mengalami jangkitan, virus berjalan turun melalui serabut saraf ke tempat infeksi asli. Apabila tempat itu adalah kulit, kulit tersebut akan kemerahan dan terbentuk vesikel. Setelah jangkitan awal, selanjutnya jangkitan cenderung jarang, dapat terjadi tiap minggu atau tiap tahun. Rekuren ini dapat dipengaruhi oleh: trauma, radiasi ultraviolet, infeksi, temperatur yang ekstrim, stres, pengobatan, imunosupresi, atau gangguan hormon. Penyebaran virus terjadi selama infeksi primer, fase rekuren dan selama episode asimptomatis. Hampir setiap orang yang memiliki antibodi HSV-II memiliki simptom dari waktu ke waktu.
Bila seseorang terpajan HSV, maka infeksi dapat berbentuk episode I infeksi primer (inisial), episode I non infeksi primer, infeksi rekuren, asimptomatik atau tidak terjadi infeksi sama sekali. Pada episode I infeksi primer, virus yang berasal dari luar masuk ke dalam tubuh hospes. Kemudian terjadi penggabungan dengan DNA hospes di dalam tubuh hospes tersebut dan mengadakan multiplikasi atau replikasi serta menimbulkan kelainan pada kulit. Pada waktu itu hospes sendiri belum ada antibodi spesifik, ini bisa mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi berat. Selanjutnya virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional (ganglion sakralis), dan berdiam di sana serta bersifat laten.
Pada episode I non infeksi primer, infeksi sudah lama berlangsung tetapi belum menimbulkan gejala klinis, tubuh sudah membentuk zat anti sehingga pada waktu terjadinya episode I ini kelainan yang timbul tidak seberat episode I dengan infeksi primer.
Bila pada suatu waktu ada faktor pencetus (trigger factor), virus akan mengalami reaktivasi dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah infeksi rekuren. Pada saat ini di dalam tubuh hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala konstitusinya tidak seberat pada waktu infeksi primer. Trigger factor tersebut antara lain adalah trauma, koitus yang berlebihan, demam, gangguan pencernaan, stres emosi, kelelahan, makanan yang merangsang, alkohol, obat-obatan (imunosupresif, kortikosteroid), dan pada beberapa kasus sukar diketahui dengan jelas penyebabnya. Ada beberapa pendapat mengenai infeksi rekuren: 1. Faktor pencetus akan mengakibatkan reaktivasi virus dalam ganglion dan virus akan turun melalui akson saraf perifer ke sel epitel kulit yang dipersarafinya dan di sana akan mengalami replikasi dan multiplikasi serta menimbulkan lesi. 2. Virus secara terus-menerus dilepaskan ke sel-sel epitel dan adanya faktor pencetus ini menyebabkan kelemahan setempat dan menimbulkan lesi rekuren.
HSV-I bertanggung jawab untuk common cold sores, dapat ditransmisikan melalui sekresi oral. Ini sering terjadi selama berciuman, atau dengan memakan atau meminum dari perkakas yang terkontaminasi.
HSV-I dapat menyebabkan herpes genitalis melalui transmisi selama seks oral-genital. Infeksi herpes awal, sering terjadi pada anak-anak, akan tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Karena virus ditransmisikan melalui sekresi dari oral atau mukosa (kulit) genital, biasanya tempat infeksi pada laki-laki termasuk batang dan kepala penis, skrotum, paha bagian dalam, anus. Labia, vagina, serviks, anus, paha bagian dalam adalah tempat yang biasa pada wanita. Mulut juga dapat menjadi tempat infeksi untuk keduanya.
Penelitian memberi kesan bahwa virus dapat ditransmisikan ketika tidak muncul simptom, sehingga jika seorang pasangan seksual tanpa luka herpes genital yang nyata masih dapat mentransmisikan penyakit. Kenyataannya penyebaran asimptomatis sebenarnya lebih menyebarkan herpes genital daripada luka yang aktif.
E.      Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik herpes dibagi menjadi tiga tingkat yaitu :
1.       Infeksi Primer
Masa inkubasi dari HSV-II umumnya berkisar antara 3-7 hari, tetapi dapat lebih lama. Selama masa inkubasi, tidak terdapat simptom dan virus tidak dapat ditransmisikan kepada orang lain. Infeksi primer biasa terjadi antara 2 hari sampai 2 minggu setelah tereksposure virus bahkan dapat berlanjut lebih dari 2 minggu, dan memiliki gambaran klinis yang paling berat. Rasa terbakar, gatal, geli dan parestesia mungkin akan muncul sebelum muncul lesi pada kulit.
Setelah lesi timbul dapat disertai gejala konstitusi atau disebut juga general symptom, seperti malaise, demam, nyeri otot dan penurunan nafsu makan. Lesi pada kulit dapat berbentuk vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema. Vesikel ini mudah pecah dan menimbulkan ulkus multipel yang sangat nyeri bila disentuh, yang akan terasa 7 hari sampai 2 minggu.
Tanpa infeksi sekunder, penyembuhan terjadi dalam waktu 5 sampai 7 hari dan tidak terjadi jaringan parut. Tetapi bila ada, penyembuhan memerlukan waktu lebih lama dan meninggalkan jaringan parut. Pecahnya vesikel diikuti pembesaran limfonodi pada lipat paha. Pada wanita dapat menghasilkan discharge vagina dan disuria. Laki-laki dapat menghasilkan discharge pada penis, juga merasakan disuria jika lesi terletak dekat dengan muara uretra. Kebanyakan orang yang terinfeksi HSV-II tidak sadar bahwa mereka terinfeksi, simptom yang terjadi selama perjangkitan pertama dapat pula tidak nyata.
Pada pria: rasa sakit, vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen, dapat menjadi krusta dan kadang mengalami ulserasi yang dangkal, dan biasa sembuh tanpa sikatrik, kelainan kulit biasanya terjadi pada penis, tapi dapat juga terdapat pada anus atau pada perineum.
Pada wanita: vesikel atau lesi ulseratif pada serviks atau vesikel yang sakit pada genital eksterna bilateral, dapat terjadi pada vagina, perineum, pantat, dan dapat pada tungkai sejalan dengan distribusi dari saraf sakral. Pada wanita dapat ditemukan retikulopati lumbosakral, dan 25% wanita yang mendapat infeksi primer HSV-II dapat terjadi aseptik meningitis.
2.       Fase Laten
Setelah infeksi primer, virus akan laten dalam beberapa bulan sampai bertahun-tahun, sampai ada suatu trigger factor. Pada fase laten ini virus dapat bertahan bertahun-tahun bahkan seumur hidup penderita. Pada fase ini berarti penderita tidak ditemukan gejala klinis, tetapi HSV dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis, sehingga sistem imun sulit untuk mendeteksi dan merusaknya.
3.       Infeksi rekuren
Infeksi ini berarti HSV-II pada ganglion dorsalis yang dalam keadaan tidak aktif, dengan mekanisme pacu menjadi aktif dan mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinik. Infeksi dapat reaktif setiap waktu. Mekanisme pacu dapat berupa trauma fisik (demam, infeksi, kurang tidur, kelelahan, hubungan seksual atau trauma pada tempat yang terinfeksi, iritasi mekanik dan sebagainya), trauma psikis (gangguan emosi), dan dapat pula oleh makanan atau minuman yang merangsang, menstruasi, imunosupresi (AIDS, pengobatan yang dapat berupa kemoterapi dan terapi steroid), penyakit yang umum (mulai dari penyakit yang sedang hingga kondisi yang serius, seperti operasi, serangan jantung, pneumonia dan lain-lain).
Gejala klinis yang timbul lebih ringan daripada infeksi primer karena telah ada antibodi spesifik, berlangsung kira-kira 7 sampai 10 hari, serta penyembuhan akan berlangsung lebih cepat. Serangan berulang sangat jarang terjadi setiap tahunnya. Sering ditemukan gejala prodromal lokal sebelum vesikel, berupa rasa panas, gatal, dan nyeri. Rasa nyeri dapat terjadi pada daerah sekitar genital, anus, paha bagian dalam serta mulut. Infeksi rekuren ini dapat terjadi pada tempat yang sama (loco) atau tempat yang lain atau tempat sekitarnya (non loco). Infeksi rekuren pada laki-laki umumnya sedang dan berdurasi pendek dibandingkan infeksi rekuren pada wanita.
Infeksi inisial dan rekuren selain disertai gejala klinis dapat juga tanpa gejala. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya antibodi terhadap HSV-II pada orang yang tidak ada riwayat penyakit herpes genitalis sebelumnya. Adanya antibodi terhadap HSV-I menyebabkan infeksi HSV lebih ringan. Hal ini memungkinkan infeksi inisial HSV-II berjalan asimptomatik pada penderita yang pernah mendapat infeksi HSV-I.

F.      Gejala
1.       timbul erupsi bintik kemerahan disertai rasa panas dan gatal pada kulit region genitalis.
2.       Kadang disertai demam seperti influenza dan setelah 2-3 hari bintik kemerahan tersebut berubah menjadi vesikel disertai rasa nyeri.
3.       5-7 hari kemudian, vesikel pecah dan keluar cairan jernih dan pada lokasi vesikel yang pecah timbul koropeng (atau ditutupi lapisan kekuningan bila terkena infeksi sekunder).
4.       Bila mengenai region genetalia yang cukup luas dapat menyebabkan gangguan mobilitas, vaginitis, urethritis, sistitis, dan fisura ani hepetika.

G.     Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya yang timbul di bagian tubuh tertentu dan khas untuk herpes simpleks.
Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pembiakan virus, pemeriksaan darah untuk mengetahui adanya peningkatan kadar antibodi serta biopsi.
Pada stadium yang sangat dini, diagnosis ditegakkan dengan menggunakan teknik terbaru yaitu reaksi rantai polimerase, yang bisa digunakan untuk mengenali DNA dari virus herpes simpleks di dalam jaringan atau cairan tubuh.





H.     Pengaruh Terhadap Kehamilan
1.       Virus dapat sampai ke sirkulasi fetal melalui plasenta dan dapat menyebabkan kerusakan dan kematian janin.
2.       Infeksi neonatal ( 0-20 hari) angka mortalitasnya 60%, jika dapat bertahan hidup setengahnya mempunyai kemungkinan cacat neurologis yang nantinya juga berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan serta menyebabkan kelainan mata.
3.       Dapat menyebabkan kelainan ensefalitis,  koriodorenitis, keratokonjungtivitis.
4.       Dapat menyebabkan abortus dan prematuritas

I.        Pencegahan
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran herpes simpleks antara lain:
1.       Hindari berhubungan seksual dengan orang lain bila masih terdapat vesikel
2.       Hindari pinjam meminjam barang pribadi seperti handuk
3.        Hindari pencetus terjadinya episode rekuren seperti kurang tidur, stress berlebihan.
















BAB III
KASUS

Seorang ibu G1P0A0 umur 22 tahun, HPHT  tanggal 14 Nopember 2012, HPL tanggal 21 Agustus 2013, umur kehamilan 15 minggu. Ibu mengeluh terasa gatal, kemerahan dan terdapat lepuhan yang bergerombol di daerah kemaluannya.Ibu mengatakan pekerjaanya hanya di rumah mengurus rumah tangga dan suaminya bekerja sebagai supir dan jarang di rumah, ibu mengatakan suaminya sering mengeluh terasa panas dan perih pada kemaluannya saat sedang kencingdan  saat sedang melakukan hubungan seksual. Ibu juga mengatakan jika pada alat kemaluan suaminya terdapat luka yang sembab.



















ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGI
PADA NY. S UMUR 22 TAHUN G1P0A0 UK 15 MINGGU DENGAN HERPES
DI BPS GB YOGYAKARTA

Tanggal             : 28 februari 2013
Jam                  : 08. 00 WIB
Tempat             : BPS GB
I.        PENGAKAJIAN
A.      Subjektif
1.       identiitas
Nama                     : Ny. S                                      Nama Suami     : Tn. A
Umur                      : 22 tahun                                  Umur                : 25 tahun
Agama                    : islam                                      Agama              : islam
Suku/bangsa           : jawa/Indonesia                                    suku/bangsa      : jawa/indonesia
Pendidikan              : SMA                                       pendidikan         : SMA
Pekerjaan                : IRT                                         Pekerjaan          : swasta
Alamat                    : perum candi Indah                   Alamat              : perum candi Indah
2.       Anamnesa
Alasan datang         : ibu mengatakan dating ingin memeriksakan kehamilannya
Keluhan utama        : ibu mengatakan mengeluh terasa gatal, kemerahan dan terdapat lepuhan yang bergerombol di daerah kemaluannya.
3.       Riwayat Kesehatan
a.       Riwayat kesehatan yang lalu
DM                   : tidak ada
Jantung             : tidak ada
Hipertensi         : tidak ada
TBC                 : tidak ada
Hepatitis           : tidak ada
IMS                  : tidak ada
b.       Riwayat kesehatan sekarang
DM                   : tidak ada
Jantung             : tidak ada
Hipertensi         : tidak ada
TBC                 : tidak ada
Hepatitis           : tidak ada
IMS                  : ada
c.       Riwayat kesehatan keluarga
DM                   : tidak ada
Jantung             : tidak ada
Hipertensi         : tidak ada
TBC                 : tidak ada
Hepatitis           : tidak ada
IMS                  : ada
4.       Riwayat pernikahan
Ibu mengatakan menikah dengan sah, menikah 1 kali, usia pertama menikah 20 tahun, lama menikah 2 tahun
5.       Riwayat Obstetri
a.       Riwayat Haid
Menarce            : usia 14 tahun
            Siklus               : 28 hari, teratur
            Lama                : 6 – 7 hari
            Volume             : hari 1 – 2, ganti pembalut 2X, penuh
                                     Hari 3 – 5, ganti pembalut 2X, ½ penuh
                                     Hari 6 – 7, ganti pembalut 2X, flek – flek
            Disminore         : -
            Flour albus        : -
b.       Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Ibu mengatakan ini kehamilan pertamanya
c.       Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun
d.       Riwayat kehamilan sekarang
HPHT               : 12 nopember 2012
UK                   ; 15 minggu
HPL                  : 21 agustus 2013
ANC 2X di BPS
1.       Keluhan      : mual
suplemen    : Vit B6, Vit C
Nasihat       : banyak istirahat, makan sedikit tapi sering
2.       Keluhan      : mual
Suplemen    : Vit B6, anelat
Nasihat       : makan sedikit tapi sering, lakukan olahraga ringan dan banyak istirahat
6.       Pola kebiasaan sehari – hari
a.       Pola nutrisi
Sebelum hamil
-          Makan        : 3X/ hari
Menu          : nasi 1 porsi sedang, sayur ½ mangkuk, lauk 2 potong
-          Minum        : ±6 – 8 gelas/ hari,
Jenis          : air putih, air teh
                        Selama hamil
-          Makan        : 3x/ hari
Menu          : nasi 1 porsi sedikit, sayur ½ mangkuk, lauk 1 potong
-          Minum        :± 6 – 7 gelas/ hari
Jenis          : air putih, air teh
b.       Pola eliminasi
Sebelum hamil
-          BAK           : ± 3 – 4x/ hari, warna jernuh kekuningan, bau khas urine, keluhan tidak
                  ada
-          BAB           : ±1 – 2x/hari, warna kuning kecoklatan, bau khas, konsistensi lembek,
                  keluhan tidak ada


Selama hamil
-          BAK           : ±4 – 6X/ hari, warna kuning jernih, bau khas urine, keluhan perih saat
                  kencing
-          BAB           : ±1x/hari, warna kuning kecoklatan, bau khas, konsistensi lembek,
                  keluhan tidak ada
c.       Personal Hygine
Sebelum hamil
Mandi                           : 2x/ hari
Gosok gigi                     : 2x/ hari
Mencuci rambut             ;1x dalam 2 hari
Membersihkan genetalia : saat mandi dan setelah selesai BAK danBAB
Ganti pakaian                : 2x/ hari
Selama hamil                : tidak ada perubahan
d.       Pola hubungan seksual
Sebelum hamil               : melakukan hubungan 3 – 4x dalam  minggu, keluhan tidak ada
Selama hamil                : melakukan hubungan 3x dalam 1 minggu, keluhan terasa sakit
                                    dan perih pada genetalia
e.       Pola aktifitas
Sebelum hamil               : ibu terbiasa melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu,   
                                    mencuci, masak tanpa bantuan siapapun
Selama hamil                ; tidak ada perubahan    
f.        Pola istirahat
Sebelum hamil               : tidur malam 8 jam, tidur siang 1 jam, keluhan tidak ada
Selama hamil                : tidak ada perubahan
7.       Data psikososial
- ibu mengatakan  tinggal bersama dengan suaminya
- hubungan ibu dengan suami, keluarga dan tetangganya baik
- ibu mengatakan sangat bahagia dengan kehamilannya yang pertama
- kehamilan ini sangat diharapkan
- Pengambilan keputusan dalam keluarga adalah suami
8.       Data spiritual
- Ibu dan keluarga taat menjalankan ibadah
- Selama hamil ibu tidak pernah puasa
9.       Data social budaya
Ibu tidak menganut budaya yang dapat merugikan kesehatan ibu dan bayinya
10.   Data ekonomi
Penghasilan keluarga didapat  dari suami yang bekerja di bidang swasta
B.      Objektif
1.       Pemeriksaan umum
Keadaan Umum             : baik
Kesadaran                     ; CM
TTV      : TD      : 120/80 mmHg
              R        ; 24X/m
              S        : 36,5˚C
              N        : 80X/m
             BB       : 49 Kg
             TB       : 150 Cm
2.       Pemeriksaan fisik
a.       Kepala dan muka
Rambut       : hitam, bersih, tidsk mudsh rontok
Muka          : tidak pucat, tidak ada oedem
Mata           : konjungtiva merah muda, sclera putih, fungsi penglihatan normal
Hidung        : bersih, tidak ada polip, fungsi normal
Mulut          : bersih, tidak pembengkakan gusi, tidak ada caries gigi
Telinga        : bersih, tidak ada secret, simetris, fungsi pendengaran normal
b.       Leher          : tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan tyroid
c.       Dada dan payudara
- dada         : inspeksi          : tidak ada retraksi dinding dada
                   Palpasi                        : tidak ada nyeri tekan
                   Auskultasi        : bunyi nafas dan jantung normal
- payudara   : inspeksi          : payudara membesar, Tegang, hyperpigmentasi areola,
                                          putting menonjol
                                                 Palpasi            : tidk ada nyeri tekan, tidak ada pembengkakan
                                                                        colostrums –
d.       Abdomen    : inspeksi          : tidak ada luka bekas operasi
 Palpasi                        : Leopold 1 TFU setinggi pertengahan sympisis dengan
                           Pusat
e.       Genetalia
Terdapat vesikel yang multiple didaerah vulva
f.        Ekstremitas
Atas           : tidak ada oedem, mampu bergerak bebas
Bawah        : tidak ada oedem, tidak ada varises, mampu bergerak bebas
3.       Pemeriksaan penunjang
-           
II. Interpretasi Data Dasar
            1. Diagnosa       : Ny. S umur 22 tahun G1P0A0, UK 15 minggu dengan herpes genetal
            Data dasar        :
            Data Subjktif     :
-          Ibu mengatakan HPHT 14 nopember 2012
-           ibu mengatakan gatal, kemerahan dan terdapat lepuhan yang bergerombol di   Daerah kemaluannya
-          Ibu mengatakan suaminya sering mengeluh panas dan perih pada kemaluannya saat sedang berkemih dan saat melakukan hubungan seksual dan terdapat luka sembab pada alat kelamin suaminya.
                 Data Objektif            :
-          KU             : baik
-          Kesadaran   : CM
-          TD              : 120/80mmHg
-          N                : 80X/m
-          S                : 36,5˚C
-          R                :24x/m
-          TB              :150 cm
-          BB              : 49 cm
- pemeriksaan genetalia  : terdapat vesikel yang multiple didaerah vulva
              2. masalah      : ibu mengatakan merasa cemas dengan keadaan yang ia alami saat ini
          3. kebutuhan       : memberikan dukungan psikologis pada ibu

III. Diagnosa Potensial
Herpes genital pada kehamilan potensial terjadi terjadi kelainan ensefalitis, koriodorenitis, keratokonjungtivitis, kecacatan janin, prematuritas, dan abortus.
IV. Tindakan Segera
1.       Kolaborasi         : mengirim pasien ke laboratorium untuk melakukan pembiakan virus dan
                        pemeriksaan darah
2.       Rujukan            : merujuk pasien ke dokter SPOG untuk mendapatkan terapi obat
V. Perencanaan
1.       Beritahu ibu mengenai hasil pemeriksaan
2.       Beritahu ibu tentang resiko bagi janin
3.        Anjurkan ibu untuk tetap tenang dan berpikir positif,
4.       Anjurkan suami dan keluarga untuk mendukung ibu
5.       Anjurkan kepada ibu untuk melakukan pemeriksaan laboratorium agar mendapatkan hasil yang lebih akurat
6.       Beritahu ibu bahwa dirinya akan dirujuk kedokter spesialis kandungan agar mendapatkan penanganan lebih lanjut
7.       Anjurkan kepada suami untuk ikut memeriksakan dirinya
VI. Pelaksanaan
            Tanggal             : 28 februari 203             jam       : 08. 30 WIB
1.       Memberitahu kepada ibu mengenai hasil pemeriksaan bahwa kemungkinan ibu terkena herpes genital
2.       Memberitahu ibu tentang resiko bagi janin bias terjadi kecacatan, lahir premature, maupun
Keguguran
3.       Menganjurkan kepada ibu agar tetap tenang dan berpikir positif
4.       menganjurkan suami dan keluarga untuk memberikan psikologis kepada ibu
5.       menganjurkan kepada ibu untuk melakukan pemeriksaan laboratorium agar mendapatkan hasil yang lebih akurat
6.       memberitahu ibu bahwa dirinya akan dirujuk kedokter spesialos kandungan agar mendapatkan pelayanan/ penanganan lebih lanjut
7.       menganjurkan kepada suami untuk turut memeriksakan dirinya


VII. Implementasi
            Tanggal             : 28 februari 2013           jam       : 08. 45 WIB
1.       Ibu mengerti dan merasa cemas
2.       Ibu merasa khawatir dengan keadaan janinnya
3.       Suami bersedia mendampingi dan memberikan dukungan kepada ibu
4.       Ibu bersedia untuk melakukan pemeriksaan laborat
5.       Ibu bersedia untuk dirujuk ke dokter
6.       Suami bersedia untuk memeriksakan dirinya ke dokter spesialis


















BAB IV
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I atau tipe II yang ditandai adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan merah. Vesikel ini paling sering terdapat di sekitar mulut, hidung, daerah genital dan bokong, walaupun dapat juga terjadi di bagian tubuh lain.
Terdapat 2 jenis virus herpes simpleks yang menginfeksi kulit, yaitu HSV-1 dan HSV-2. HSV-1 merupakan penyebab dari luka di bibir (herpes labialis) dan luka di kornea mata (keratitis herpes simpleks). Biasanya ditularkan melalui kontak dengan sekresi dari atau di sekitar mulut. HSV-2 biasanya menyebabkan herpes genitalis dan terutama ditularkan melalui kontak langsung dengan luka selama melakukan hubungan seksual.
Pengaruh herpes genital pada kehamilan.Virus dapat sampai ke sirkulasi fetal melalui plasenta dan dapat menyebabkan kerusakan dan kematian janin.

B. SARAN
1.  diharapkan bagi ibu hamil dapat mengetahui tanda – tanda penyakit yang menyertai kehamilan
      khususnya penyakit herpes
2.diharapkan bagi mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa kebidanan dapat menjelaskan mengenai
penyakit yang menyertai kehamilan khususnya herpes
3. diharapkan bagi mahasiswa kebidanan dapat melaksanakan asuhan kebidanan patologis pada
     kehamilan dengan penyakit yang menyertainya.












DAFTAR PUSTAKA

-Fadlun, Feryanto Ahmad. Asuhan Kebidanan Potologis. 2011. Jakarta : Salemba Medika
- kusmiran Eny. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. 2011. Jakarta : Salemba Medika
- Dachlan Erry Gumilar. Ilmu Kebidanan. 2010. Jakarta : P.T. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo