BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Plasenta adalah
bagian dari kehamilan yang penting. Melihat pentingnya peranan dari plasenta
maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan menyebabkan kelainan pada janin
ataupun mengganggu proses persalinan. Kelainan pada plasenta dapat berupa
gangguan fungsi dari plasenta ataupun gangguan implantasi dari plasenta.
Gangguan dari implantasi plasenta dapat berupa kelainan letak implantasinya ataupun
kelainan dari kedalaman implantasinya.
Namun sebelum
membicarakan mengenai plasenta yang abnormal maka terlebih dahulu akan dibahas
sedikit mengenai keadaan plasenta yang normal. Setelah terjadinya fertilisasi
ovum oleh sperma maka sel yang dihasilkan disebut sebagai zygot. Kemudian
terjadi pembelahan pada zygot sehingga menghasilkan apa yang disebut sebagai
blastomer, kemudian morula dan blastokist. Pada tahap-tahap perkembangan ini,
zona pellucida masih mengelilingi. Sebelum terjadinya implantasi, zona
pellucida menghilang sehingga blastosit menempel pada permukaan endometrium.
Dengan menempelnya blastokist pada permukaan endometrium maka blastosit menyatu
dengan epitel endometrium. Setelah terjadi erosi pada sel epitel endometrium,
trophoblast masuk lebih dalam ke dalam endometrium dan segera blastokist
terkurung di dalam endometrium.
Implantasi ini
terjadi pada daerah endometrium atas terutama pada dinding posterior dari
uterus. Endometrium sendiri sebelum terjadinya proses di atas terjadi perubahan
untuk menyiapkan diri sebagai tempat implantasi dan memberi makan kepada
blastokist yang disebut sebagai desidua. Setelah terjadi implantasi desidua
akan dibedakan menjadi :
1.
Desidua basalis :
desidua yang terletak antara blastokist dan miometrium
2.
Desidua kapsularis :
desidua yang terletak antara blastokist dan kavum uteri
3.
Desidua vera :
desidua sisa yang tidak mengandung blastokist
Bersamaan dengan hal
ini pada daerah desidua basalis terjadi suatu degenerasi fibrinoid, yang
terletak dia antara desidua dan trofoblast untuk menghalangi serbuan trofoblast
lebih dalam lagi. Lapisan dengan degenerasi fibrinoid ini disebut sebagai
lapisan Nitabuch. Pada perkembangan selanjutnya, saat terjadi persalinan,
plasenta akan terlepas dari endometrium pada lapisan Nitabuch tersebut.
Bentuk plasenta yang
normal ialah ceper dan bulat, dengan diameter15 – 20 cm dan tebal 1,5 – 3 cm,
berat kurang lebih 500 gram. Kadang – kadang ditemukan plasenta yang kecil pada
wanita dengan tekanan darah diastolik 100 mmHg seperti pada preeklampsi berat.
Fungsi plasenta ialah
mengusahakan janin tumbuh dengan baik. Untuk pertumbuhan ini dibutuhkan adanya
penyaluran zat asam, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu ke janin, dan
pembuangan CO2 serta sampah metabolisme janin ke peredaran darah ibu. Fungsi
plasenta, antara lain :
- Sebagai alat yang memberikan
nutrisi pada janin (nutritif)
- Sebagai alat yang mengeluarkan
sisa metabolisme (ekskresi)
- Sebagai alat yang memberikan zat
asam dan mengeluarkan CO2 (respirasi)
- Sebagai alat yang membentuk hormon
- Penyalur antibodi ke janin
B.
Tujuan
1.
Untuk memberikan
informasi mengenai pengertian plasenta sirkumvalata
2.
Untuk memberikan
informasi mengenai patofisiologi plasenta sirkumvalata
3.
Untuk memberikan
informasi mengenai tanda dan gejala plasenta sirkumvalata
4.
Untuk memberikan
informasi mengenai cara mendiagnosis plasenta sirkumvalata
5.
Untuk memberikan
informasi mengenai komplikasi plasenta sirkumvalata
6.
Untuk memberikan
informasi mengenai Penanganan plasenta sirkumvalata
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
- Pengertian
Plasenta
sirkumvalata adalah plasenta yang pada permukaan fetalis dekat pinggir terdapat
cincin putih. Cincin ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan jaringan di
sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh ke samping di bawah desidua.
Sebagai akibatnya pinggir plasenta mudah terlepas dari dinding uterus dan
perdarahan ini menyebabkan perdarahan antepartum.
- Patofisiologi
Diduga
bahwa chorion frondosum terlalu kecil dan untuk mencukupi kebutuhan, villi
menyerbu ke dalam desidua di luar permukaan frondosuin, plasenta jenis ini
tidak jarang terjadi. Insidensinya lebih kurang 2 - 18%. Bila cincin putih ini
letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta, disebut plasenta marginata.
Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstrakorial. Pada plasenta marginata mungkin
terjadi adeksi dari selaput sehingga plasenta lahir telanjang.
- Tanda dan Gejala
Pada
setiap perdarahan antepartum pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu
bersumber pada kelainan plasenta, karena perdarahan antepartum yang berbahaya
umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan kelainan serviks tidak
seberapa berbahaya. Pecahnya sinus marginalis merupakan perdarahan yang
sebagian besar baru diketahui setelah persalinan pada waktu persalinan,
perdarahan terjadi tanpa sakit dan menjelang pembukaan lengkap. Karena
perdarahan terjadi pada saat pembukaan mendekati lengkap, maka bahaya untuk ibu
maupun janinnya tidak terlalu besar.
Pada
ibu hamil yang positif terkena plasenta sirkumvalata dari hasil pemeriksaan
fisik dapat diberikan hasil tanda dan gejala seperti pergerakan janin berkurang,
keluarnya darah dari kemaluan, perut terasa tegang dan kepala terasa pusing,
lemas, muntah, pucat dan pandangan berkunang-kunang.
- Cara mendiagnosis Plasenta
Sirkumvalata
Diagnosis
plasenta sirkumvalata baru dapat ditegakkan setelah plasenta lahir, tetapi
dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea.
5.
Komplikasi
Beberapa
ahli mengatakan bahwa plasenta sirkumvalata sering menyebabkan perdarahan, abortus,
dan solutio plasenta.
- Penanganan Plasenta Sirkumvalata
1.
Jika pada kehamilan
terjadi perdarahan intermitten dan belum terjadi abortus ibu disarankan untuk
beristirahat total untuk mencegah terjadinya abortus.
2.
Jika sudah terjadi
abortus lakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang berwenang dalam hal ini
dokter obsgin untuk mencegah perdarahan yang dapat mengancam jiwa ibu.
3.
Jika mengakibatkan
solutio plasenta lakukan penanganan seperti pasien solutio plasenta, jika
terjadi perdarahan hebat (nyata atau tersembunyi) lakukan persalinan segera.
Seksio caesarea dilakukan jika :
a.
Janin hidup, gawat
janin tetapi persalinan pervaginam tidak dapat dilaksanakan dengan segera
(pembukaan belum lengkap)
b.
Janin mati tetapi
kondisi serviks tidak memungkinkan persalinan pervaginam dapat berlangsung
dalam waktu singkat
c.
Persiapan, cukup
dilakukan penanggulangan awal dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan
satu-satunya cara efektif untuk menghentikan perdarahan
BAB III
TINJAUAN KASUS
a.
Contoh Kasus
Ny.
J datang ke RS tanggal 23 Maret 2013 jam 09.00. Ibu mengeluh keluar darah dari
vaginanya sejak 1 hari yang lalu, kepala terasa pusing dan pandangan berkunang
– kunang. Ibu juga mengatakan selama ini belum pernah memeriksaan kehamilannya
ke bidan atau dokter. Ibu tampak lemas dan pucat. Ibu mengatakan ini kehamilan
yang pertama dan belum pernah keguguran ( G₁
P₀ P₀
). HPHT tanggal 2 November 2012, umur hamil ibu saat ini 20 minggu 1 hari.
b.
Manajemen Kebidanan
Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Patologis
pada Ny. J umur 24 tahun
hamil 20 minggu 1 hari G₁
P₀ A₀
dengan Plasenta Sirkumvalata
di RS
Tanggal
Pengkajian : 23 Maret 2013 Jam : 09.00 WIB
Jenis
Pengkajian : Autoanamnesa
I.
Pengkajian Data
A.
Data Subjektif
1.
Identitas
a.
Identitas Pasien
Nama :
Ny. J
Umur :
24 tahun
Agama :
Islam
Suku :
Jawa
Pendidikan : SD
Pekerjaan : PRT
Alamat :
Wates
b.
Identitas Suami
Nama :
Tn. H
Umur :
30 tahun
Agama :
Islam
Suku :
Jawa
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Tani
2.
Alasan Datang ke Klinik
Ibu
mengatakan akan memeriksakan kehamilannya
3.
Keluhan Utama
Ibu
mengeluh dari alat kelaminnya keluar darah sejak 1 hari yang lalu, kepala
terasa pusing dan pandangan berkunang – kunang
4.
Riwayat Kesehatan
|
|
Riwayat Kesehatan
Dahulu
|
Riwayat Kesehatan Sekarang
|
Riwayat Kesehatan
Keluarga
|
|
Jantung
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
Hipertensi
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
Ashma
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
Tuberculosis
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
Ginjal
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
Diabetes
mellitus
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
Cacat
fisik
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
Kembar
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
Operasi
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
5.
Riwayat Perkawinan
1.
Kawin 1 kali
2.
Kawin pertama umur 23
tahun
3.
Lama perkawinan dengan suami sekarang 1 tahun
4.
Riwayat Obstetri
a.
Riwayat menstruasi
1.
Menarche umur : 14 tahun, teratur
2.
Siklus : 28 hari
3.
Lamanya : 7 hari
4.
HPHT : 2 November 2012
5.
HPL : 9 Agustus
2013
b.
Riwayat kehamilan,
persalinan dan nifas yang lalu
|
Tgl
lahir
|
UK
|
Persalinan
|
Penolong
|
Jenis
kelamin
|
BB/
PB
|
Perdarahan
|
Nifas
|
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
c.
Riwayat kehamilan
sekarang
1.
Ibu mengatakan hamil
yang pertama ( G₁
P₀ A₀
)
2.
HPHT 2 November 2012,
umur hamil saat ini 20 minggu 1 hari
3.
Periksa hamil
sebelumnya
|
|
Trimester 1
|
Trimester 2
|
Trimester 3
|
|
Frekuensi
|
Belum pernah
|
Belum pernah
|
|
|
Keluhan
|
Belum pernah
|
Belum pernah
|
|
4.
TT
5.
Gerakan janin
dirasakan pada pertama kali umur kehamilan 16 minggu
5.
Riwayat Kb
Ibu
mengatakan belum pernah memakai alat kontrasepsi
6.
Pola Kebutuhan Sehari
– hari
a.
Pola nutrisi
|
|
Sebelum hamil
|
Selama
hamil
|
|
Pola
makan
|
3 x sehari
|
2
x sehari
|
|
Makanan
pantangan
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
Alergi
makanan
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
Pola
minum
|
7 gelas sehari
|
6
gelas sehari
|
|
Jenis
minum
|
Air putih, teh
|
Air
putih
|
b.
Pola eliminasi
a.
BAK
|
|
Sebelum hamil
|
Selama
hamil
|
|
Frekuensi
|
3 x sehari
|
4
– 5 x sehari
|
|
Warna
|
Kuning jernih
|
Kuning
jernih
|
|
Bau
|
Khas
|
Khas
|
|
Keluhan
|
Tidak ada keluhan
|
Kadang
keluar darah
|
b.
BAB
|
|
Sebelum hamil
|
Selama
hamil
|
|
Frekuensi
|
3 hari sekali
|
3
hari sekali
|
|
Warna
|
Kuning kecoklatan
|
Kuning
kecoklatan
|
|
Konsistensi
|
Padat
|
Padat
|
|
Keluhan
|
Tidak ada keluhan
|
Tidak
ada keluhan
|
c.
Pola istirahat dan aktivitas
Tidur
siang : tidak pernah
Tidur
malam : 6 jam
Kegiatan
sehari – hari : ibu melakukan kegiatan
sehari – hari sebagai PRT
d.
Pola personal hygiene
Mandi
: 2 x sehari
Keramas : 2 hari sekali
Gosok
gigi : 2 x sehari
Ganti
baju : 2 x sehari
Ganti
pakaian dalam : 2 x sehari
7.
Data Psikososial
Spiritual
Ibu
mengatakan mendapat dukungan dari suami dan keluarga terhadap kehamilan
B.
Data Objektif
1.
Keadaan umum : lemah
2.
Kesadaran :
composmentis
3.
Tanda vital
TD
: 90/70 mmhg Respirasi : 23X/menit
Nadi
: 100x/menit Suhu : 36°c
4.
BB saat ini : 45 kg
TB
: 155 cm
Lila
: 24 cm
IMT
: 18.75 ( normal )
5.
Pemeriksaan fisik (
inspeksi, palpasi, perkusi )
a.
Kepala : rambut
hitam, tidak rontok,
b.
Telinga : simetris,
tidak ada sekret, tidak ada gangguan pendengaran
c.
Mata : konjungtiva
putih, sclera putih
d.
Hidung : bersih,
tidak ada polip
e.
Mulut : warna bibir
pucat, bibir kering
f.
Leher : tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid dan limfe
g.
Dada : simetris,
payudara tampak membesar, hiperpigmentasi aerola
h.
Perut
·
Inspeksi : perut
mengecil, pembesaran tidak sesuai umur kehamilan, tidak ada bekas operasi, ada
linea nigra dan striae gravidarum
·
Palpasi : Leopold 1
TFU 2 jari diatas symphisis, balotemen positif
DJJ : terdengar positif, frekuensi 90 x/menit,
teratur di punctum maksimum 3 jari di bawah kiri perut
i.
Ekstremitas atas :
kuku pucat, tidak ada oedema, reflek patella positif
Ekstremitas
bawah : kuku pucat, tidak ada varises, tidak ada oedema, reflek patella positif
j.
Genital : adanya
pengeluaran darah dari vagina
k.
Anus : tidak ada
hemoroid
C. Data
Penunjang
Tanggal
23 Maret 2013
Hb
10 gr %
USG
: + plasenta sirkumvalata dan + stress janin
II.
Interpretasi Data
A.
Diagnosa Kebidanan
Ny.
J umur 24 tahun G₁
P₀ A₀
umur kehamilan 20 minggu 1 hari dengan plasenta sirkumvalata
DS
:
1.
Ibu mengatakan berumur 24 tahun
2.
Ibu mengatakan ini
kehamilan yang pertama ( G₁
P₀ A₀
)
3.
HPHT tanggal 2
November 2012
4.
Ibu mengatakan keluar
darah dari kemaluannya sejak 1 hari yang lalu
DO
:
1.
Hasil pemeriksaan
tanda vital
TD : 90/70 mmhg Respirasi : 23X/menit
Nadi : 100x/menit Suhu
: 36°c
2.
Hasil pemeriksaan
fisik
1.
Mata : konjungtiva pucat
2.
Mulut : warna bibir
pucat
3.
Palpasi : Leopold 1 TFU
2 jari diatas symphisis, balotemen positif
DJJ
: terdengar positif, frekuensi 90 x/menit, terdengar lemah di punctum maksimum
3 jari di bawah kiri perut
4.
Genetalia : keluar
bercak merah
5.
Hasil pemeriksaan
penunjang
Hb
10 gr %
USG : + plasenta sirkumvalata dan +
stress janin
B.
Masalah
Ibu
tampak cemas
C. Kebutuhan
Komunikasi
interpersonal edukasi ( KIE ) untuk mengurangi kecemasan pada ibu
III.
Identifikasi Diagnosa
/ Masalah Potensial
Pada
Ibu
1.
Keguguran
2.
Persalinan prematur
3.
Solusio plasenta
4.
Anemia ringan
5.
Perdarahan
Pada
Janin
Kematian
janin dalam rahim
IV.
Tindakan Antisipasi /
Segera
Kolaborasi dengan dokter Sp.OG
V.
Perencanaan
Tanggal
: 23 Maret 2013
Jam : 09.30
1.
Lakukan komunikasi interpersonal edukasi ( KIE )
2.
Baritahu hasil pemeriksaan
3.
Beri tablet Fe penambah darah
4.
Beri KIE tentang plasenta sirkumvalata dan bahayanya
5.
Ingatkan ibu untuk memperhatikan kebutuhan nutrisi dan cairan
6.
Ingatkan ibu tentang pola istirahat
7.
Anjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang atau bila ada keluhan
VI.
Implementasi
Tanggal
: 23 Maret 2013
Jam : 09.45
1.
Melakukan komunikasi interpersonal dengan ibu, agar tercipta suasana yang
nyaman serta untuk membina hubungan baik dan saling percaya antara ibu dan
bidan.
2.
Memberitahu hasil
pemeriksaan bahwa kondisi ibu tidak dalam keadaan baik
3.
Memberikan tablet
penambah darah / Fe pada ibu
4.
Memberikan KIE
tentang pengertian plasenta sirkumvalata dan bahayanya bagi ibu dan janin
5.
Mengingatkan ibu
untuk memperhatikan kebutuhan nutrisi dan cairan dengan makan makanan yang sehat dan bergizi secara
teratur seperti nasi, lauk pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan, serta
minum air putih 8-9 gelas sehari, bila perlu susu 1 gelas sehari, tidak ada
pantangan makanan apapun bagi ibu.
6.
Mengingatkan ibu untuk memperhatikan pola istirahat dengan beristirahat
ketika merasa lelah, tidak bekerja terlalu berat, tidur siang 1-2 jam sehari
dan tidur malam 7-8 jam sehari.
7.
Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang atau bila ada keluhan
VII.
Evaluasi
Tanggal
: 23 Maret 2013
Jam : 10.15
1.
Ibu sudah tidak
tampak cemas lagi dengan keadaan dirinya
2.
Ibu mengerti dengan
hasil pemeriksaannya
3.
Ibu mengerti tentang
plasenta sirkumvalata dan bahayanya
4.
Ibu sudah diberikan
tablet Fe untuk dikonsumsi setiap hari sebagai penambah darah
5.
Ibu mengerti dan
bersedia mengikuti penjelasan bidan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan
cairannya secara teratur seperti nasi, lauk pauk, sayur-sayuran, dan
buah-buahan, serta minum air putih 8-9 gelas sehari, bila perlu susu 1 gelas
sehari
6.
Ibu mengerti dan
bersedia untuk memenuhi pola istirahatnya untuk mencegah kelelahan yang
berlebihan dengan
tidur siang 1-2 jam sehari dan tidur malam 7-8 jam sehari.
7.
Ibu bersedia
melakukan kunjungan ulang atau bila ada keluhan
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Plasenta Sirkumvalata
adalah plasenta yang pada
permukaan fetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Cincin ini menandakan
pinggir plasenta, sedangkan jaringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang
tumbuh ke samping di bawah desidua.
Kasus
pada Ny. J yang mengalami plasenta sirkumvalata berada pada risiko yang sangat
tinggi untuk melahirkan bayi prematur atau keguguran. Ketika plasenta
sirkumvalata terus mengalami perkembangan kurva dan meringkuk di sebagian besar
kehamilan ada kemungkinan bahwa plasenta akan terlepas dan bayi perlu
dikirimkan segera melalui operasi caesar. Jika plasenta terlepas sebelum 25
minggu kehamilan, ada kemungkinan besar keguguran. Jika janin seperti pada
kasus Ny. J maka perlu dilakukan USG rutin setidaknya sebulan sekali supaya
janin yang dikandungnya dapat diselamatkan dan tidak beresiko tinggi terhadap
keguguran, kematian janin dalam rahim, solusio plasenta, dan persalinan
prematur.
B.
Saran
1.
Bagi mahasiswa kebidanan agar
senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya untuk menurunkan angka
mortalitas dan morbiditas ibu dan anak.
2.
Bagi ibu yang hamil khususnya Ny.
J dapat lebih memperhatikan keadaan dirinya dan janinnya supaya dapat
mempertahankan janin yang dikandungnya dengan sehat dan lebih memperhatikan
penjelasan dan saran dari dokter maupun bidan.
DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo,Sarwono. 2005. Ilmu
Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo
Tiran, Denise. 2006. Kamus Saku Bidan.
Jakarta : EGC
LAMPIRAN
1.
Masukan dari Titis
Saharani
·
Melengkapi penulisan
Latar Belakang Masalah dan Tujuan pada BAB 1
·
Melengkapi penulisan
keluhan ibu untuk dimasukkan ke dalam data subjektif pada interpretasi data
·
Melengkapi penulisan pemeriksaan
genetalia untuk dimasukkan ke dalam hasil pemeriksaan fisik pada data objektif
di interpretasi data
Semua masukan sudah
kami terima dan sudah kami perbaiki untuk revisi.
2.
Pertanyaan dari Helen
Puspa Sari
·
Berapa cc kah darah
yang keluar dari vagina ibu dan berwarna apa ?
Darah yang keluar
dari vagina ibu hanya berupa bercak merah yang jumlahnya tidak dapat diketahui
berapa cc secara pasti.
·
Mengapa pada
perencanaan dan implementasi tidak dilakukan tindakan untuk memperbaiki keadaan
umum ibu yang lemah? Apakah ibu akhirnya di rawat inap atau pulang padahal ibu
dalam keadaan lemah ?
Keadaan
umum ibu dalam kasus tersebut disebabkan karena pola makan dan pola
istirahatnya yang sangat kurang sehingga mengakibatkan keadaan fisik ibu dalam
keadaan lemah, hal itu dapat diketahui juga karena ibu selama hamil tidak
pernah minum tablet Fe. Dan bukan karena ibu dengan diagnosa plasenta
sirkumvalata tersebut sehingga dalam perencanaan dan implementasipun kita hanya
melakukan pemberian tablet Fe penambah darah dan memberikan KIE tentang
kebutuhan nutrisi dan cairan
secara teratur seperti nasi, lauk pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan,
serta minum air putih 8 - 9 gelas sehari, bila perlu susu 1 gelas sehari dan pola istirahat dengan tidur siang 1 - 2 jam sehari dan tidur malam 7 -
8 jam sehari. Ibu dengan kondisi seperti pada kasus tidak perlu di rawat inap
karena dalam pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda – tanda syok.
·
Apa saja tanda dan
gejala plasenta sirkumvalata yang lebih spesifik sedangkan dalam teori tidak
ada tanda dan gejala klinis yang disebutkan secara khusus ?
Pada ibu hamil yang
positif terkena plasenta sirkumvalata dari hasil pemeriksaan fisik dapat
diberikan hasil tanda dan gejala seperti pergerakan janin berkurang, keluarnya
darah dari kemaluan, perut terasa tegang dan kepala terasa pusing, lemas,
muntah, pucat dan pandangan berkunang-kunang.
3.
Pertanyaan dari Sri
Supeni
Mengapa
DJJ hanya 130 x/menit dan dapat dikatakan lemah ?
Pada pemeriksaan
fisik ibu dengan plasenta sirkumvalata melalui USG tes stress janin dapat di
ambil kesimpulan bahwa DJJ pada ibu dengan plasenta sirkumvalata terdengar
lemah, hal ini dapat ditegakkan dengan adanya hasil positif tes stress janin
yang dilakukan dokter seperti pada kasus diatas. Kami mengambil frekuensi DJJ
90 x/menit karena janin mengalami stress janin bukan 130 x/menit. Dan kami
sudah memperbaikinya dalam revisi.
4.
Pertanyaan dari
Fransiska Thesawati D
Untuk
apakah USG rutin dilakukan ?
Sebenarnya dalam
teori disebutkan bahwa ibu dengan plasenta sirkumvalata dianjurkan untuk
melakukan USG rutin untuk mengetahui perkembangan plasenta sirkmvalata ini
dapat mengakibatkan kematian janin atau komplikasi lain, dengan dilakukannya
USG rutin dapat diketahui apakah nanti akhirnya janin akan selamat untuk
dilahirkan meskipun dengan jalan ceasar atau dilakukan kuretase karena
mengakibatkan kematian janin dalam kandungan. Dalam kasus diatas memang tidak
memungkinkan dilakukan USG rutin karena faktor ekonomi dari ibu maupun suami,
sehingga kami sebagai bidan dalam kasus tersebut hanya dapat memantau
perkembangan janinnya melalui pemeriksaan pada saat kunjungan ulang ibu, oleh
sebab itu kami tidak memasukkan ke dalam perencanaan dan implementasi untuk menganjurkan
ibu melakukan USG rutin karena hal tersebut tidak memungkinkan yang sudah kami
perbaiki dalam revisi makalah ini.