KEHAMILAN DENGAN PLASENTA SIRKMVLATA

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Plasenta adalah bagian dari kehamilan yang penting. Melihat pentingnya peranan dari plasenta maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan menyebabkan kelainan pada janin ataupun mengganggu proses persalinan. Kelainan pada plasenta dapat berupa gangguan fungsi dari plasenta ataupun gangguan implantasi dari plasenta. Gangguan dari implantasi plasenta dapat berupa kelainan letak implantasinya ataupun kelainan dari kedalaman implantasinya.
Namun sebelum membicarakan mengenai plasenta yang abnormal maka terlebih dahulu akan dibahas sedikit mengenai keadaan plasenta yang normal. Setelah terjadinya fertilisasi ovum oleh sperma maka sel yang dihasilkan disebut sebagai zygot. Kemudian terjadi pembelahan pada zygot sehingga menghasilkan apa yang disebut sebagai blastomer, kemudian morula dan blastokist. Pada tahap-tahap perkembangan ini, zona pellucida masih mengelilingi. Sebelum terjadinya implantasi, zona pellucida menghilang sehingga blastosit menempel pada permukaan endometrium. Dengan menempelnya blastokist pada permukaan endometrium maka blastosit menyatu dengan epitel endometrium. Setelah terjadi erosi pada sel epitel endometrium, trophoblast masuk lebih dalam ke dalam endometrium dan segera blastokist terkurung di dalam endometrium.
Implantasi ini terjadi pada daerah endometrium atas terutama pada dinding posterior dari uterus. Endometrium sendiri sebelum terjadinya proses di atas terjadi perubahan untuk menyiapkan diri sebagai tempat implantasi dan memberi makan kepada blastokist yang disebut sebagai desidua. Setelah terjadi implantasi desidua akan dibedakan menjadi :
1.       Desidua basalis : desidua yang terletak antara blastokist dan miometrium
2.       Desidua kapsularis : desidua yang terletak antara blastokist dan kavum uteri
3.       Desidua vera : desidua sisa yang tidak mengandung blastokist
Bersamaan dengan hal ini pada daerah desidua basalis terjadi suatu degenerasi fibrinoid, yang terletak dia antara desidua dan trofoblast untuk menghalangi serbuan trofoblast lebih dalam lagi. Lapisan dengan degenerasi fibrinoid ini disebut sebagai lapisan Nitabuch. Pada perkembangan selanjutnya, saat terjadi persalinan, plasenta akan terlepas dari endometrium pada lapisan Nitabuch tersebut.
Bentuk plasenta yang normal ialah ceper dan bulat, dengan diameter15 – 20 cm dan tebal 1,5 – 3 cm, berat kurang lebih 500 gram. Kadang – kadang ditemukan plasenta yang kecil pada wanita dengan tekanan darah diastolik 100 mmHg seperti pada preeklampsi berat.
Fungsi plasenta ialah mengusahakan janin tumbuh dengan baik. Untuk pertumbuhan ini dibutuhkan adanya penyaluran zat asam, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu ke janin, dan pembuangan CO2 serta sampah metabolisme janin ke peredaran darah ibu. Fungsi plasenta, antara lain :
  1. Sebagai alat yang memberikan nutrisi pada janin (nutritif)
  2. Sebagai alat yang mengeluarkan sisa metabolisme (ekskresi)
  3. Sebagai alat yang memberikan zat asam dan mengeluarkan CO2 (respirasi)
  4. Sebagai alat yang membentuk hormon
  5. Penyalur antibodi ke janin
B.      Tujuan
1.       Untuk memberikan informasi mengenai pengertian plasenta sirkumvalata
2.       Untuk memberikan informasi mengenai patofisiologi plasenta sirkumvalata
3.       Untuk memberikan informasi mengenai tanda dan gejala plasenta sirkumvalata
4.       Untuk memberikan informasi mengenai cara mendiagnosis plasenta sirkumvalata
5.       Untuk memberikan informasi mengenai komplikasi plasenta sirkumvalata
6.       Untuk memberikan informasi mengenai Penanganan plasenta sirkumvalata





BAB II
TINJAUAN TEORI

  1. Pengertian
Plasenta sirkumvalata adalah plasenta yang pada permukaan fetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Cincin ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan jaringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh ke samping di bawah desidua. Sebagai akibatnya pinggir plasenta mudah terlepas dari dinding uterus dan perdarahan ini menyebabkan perdarahan antepartum.
  1. Patofisiologi
Diduga bahwa chorion frondosum terlalu kecil dan untuk mencukupi kebutuhan, villi menyerbu ke dalam desidua di luar permukaan frondosuin, plasenta jenis ini tidak jarang terjadi. Insidensinya lebih kurang 2 - 18%. Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta, disebut plasenta marginata. Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstrakorial. Pada plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput sehingga plasenta lahir telanjang.
  1. Tanda dan Gejala
Pada setiap perdarahan antepartum pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta, karena perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan kelainan serviks tidak seberapa berbahaya. Pecahnya sinus marginalis merupakan perdarahan yang sebagian besar baru diketahui setelah persalinan pada waktu persalinan, perdarahan terjadi tanpa sakit dan menjelang pembukaan lengkap. Karena perdarahan terjadi pada saat pembukaan mendekati lengkap, maka bahaya untuk ibu maupun janinnya tidak terlalu besar.
Pada ibu hamil yang positif terkena plasenta sirkumvalata dari hasil pemeriksaan fisik dapat diberikan hasil tanda dan gejala seperti pergerakan janin berkurang, keluarnya darah dari kemaluan, perut terasa tegang dan kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat dan pandangan berkunang-kunang.
  1. Cara mendiagnosis Plasenta Sirkumvalata
Diagnosis plasenta sirkumvalata baru dapat ditegakkan setelah plasenta lahir, tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea.
5.       Komplikasi
Beberapa ahli mengatakan bahwa plasenta sirkumvalata sering menyebabkan perdarahan, abortus, dan solutio plasenta.
  1. Penanganan Plasenta Sirkumvalata
1.       Jika pada kehamilan terjadi perdarahan intermitten dan belum terjadi abortus ibu disarankan untuk beristirahat total untuk mencegah terjadinya abortus.
2.       Jika sudah terjadi abortus lakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang berwenang dalam hal ini dokter obsgin untuk mencegah perdarahan yang dapat mengancam jiwa ibu.
3.       Jika mengakibatkan solutio plasenta lakukan penanganan seperti pasien solutio plasenta, jika terjadi perdarahan hebat (nyata atau tersembunyi) lakukan persalinan segera. Seksio caesarea dilakukan jika :
a.       Janin hidup, gawat janin tetapi persalinan pervaginam tidak dapat dilaksanakan dengan segera (pembukaan belum lengkap)
b.       Janin mati tetapi kondisi serviks tidak memungkinkan persalinan pervaginam dapat berlangsung dalam waktu singkat
c.       Persiapan, cukup dilakukan penanggulangan awal dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan satu-satunya cara efektif untuk menghentikan perdarahan



BAB III
TINJAUAN KASUS

a.          Contoh Kasus
Ny. J datang ke RS tanggal 23 Maret 2013 jam 09.00. Ibu mengeluh keluar darah dari vaginanya sejak 1 hari yang lalu, kepala terasa pusing dan pandangan berkunang – kunang. Ibu juga mengatakan selama ini belum pernah memeriksaan kehamilannya ke bidan atau dokter. Ibu tampak lemas dan pucat. Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama dan belum pernah keguguran ( G P P ). HPHT tanggal 2 November 2012, umur hamil ibu saat ini 20 minggu 1 hari.





















b.          Manajemen Kebidanan

Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Patologis pada Ny. J umur 24 tahun
hamil 20 minggu 1 hari G P A dengan Plasenta Sirkumvalata
di RS

Tanggal Pengkajian        : 23 Maret 2013                         Jam : 09.00 WIB
Jenis Pengkajian           : Autoanamnesa

        I.            Pengkajian Data
A.   Data Subjektif
1.    Identitas


a.    Identitas Pasien
Nama              : Ny. J
Umur               : 24 tahun
Agama                        : Islam
Suku               : Jawa
Pendidikan       : SD
Pekerjaan        : PRT
Alamat            : Wates
b.       Identitas Suami
Nama                                    : Tn. H
Umur                         : 30 tahun
Agama                       : Islam
Suku                          : Jawa
Pendidikan                 : SMP
Pekerjaan                   : Tani


2.    Alasan Datang ke Klinik
Ibu mengatakan akan memeriksakan kehamilannya
3.    Keluhan Utama
Ibu mengeluh dari alat kelaminnya keluar darah sejak 1 hari yang lalu, kepala terasa pusing dan pandangan berkunang – kunang
4.    Riwayat Kesehatan


Riwayat Kesehatan Dahulu
Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat Kesehatan Keluarga
Jantung
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Hipertensi
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ashma
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tuberculosis
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ginjal
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Diabetes mellitus
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Cacat fisik
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Kembar
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Operasi
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

5.    Riwayat Perkawinan
1.       Kawin 1 kali
2.       Kawin pertama umur 23 tahun
3.       Lama perkawinan dengan suami sekarang 1 tahun
4.    Riwayat Obstetri
a.       Riwayat menstruasi
1.       Menarche umur         : 14 tahun, teratur
2.       Siklus                       : 28 hari
3.       Lamanya                  : 7 hari
4.       HPHT                      : 2 November 2012
5.       HPL                                     : 9 Agustus 2013
b.       Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

Tgl lahir
UK
Persalinan
Penolong
Jenis kelamin
BB/ PB
Perdarahan
Nifas
-
-
-
-
-
-
-
-

c.       Riwayat kehamilan sekarang
1.       Ibu mengatakan hamil yang pertama ( G P A )
2.       HPHT 2 November 2012, umur hamil saat ini 20 minggu 1 hari
3.       Periksa hamil sebelumnya

Trimester 1
Trimester 2
Trimester 3
Frekuensi
Belum pernah
Belum pernah

Keluhan
Belum pernah
Belum pernah


4.       TT
5.       Gerakan janin dirasakan pada pertama kali umur kehamilan 16 minggu
5.    Riwayat Kb
Ibu mengatakan belum pernah memakai alat kontrasepsi
6.    Pola Kebutuhan Sehari – hari
a.       Pola nutrisi

Sebelum hamil
Selama hamil
Pola makan
3 x sehari
2 x sehari
Makanan pantangan
Tidak ada
Tidak ada
Alergi makanan
Tidak ada
Tidak ada
Pola minum
7 gelas sehari
6 gelas sehari
Jenis minum
Air putih, teh
Air putih

b.       Pola eliminasi
a.    BAK

Sebelum hamil
Selama hamil
Frekuensi
3 x sehari
4 – 5 x sehari
Warna
Kuning jernih
Kuning jernih
Bau
Khas
Khas
Keluhan
Tidak ada keluhan
Kadang keluar darah

b.    BAB

Sebelum hamil
Selama hamil
Frekuensi
3 hari sekali
3 hari sekali
Warna
Kuning kecoklatan
Kuning kecoklatan
Konsistensi
Padat
Padat
Keluhan
Tidak ada keluhan
Tidak ada keluhan

c.       Pola  istirahat dan aktivitas
Tidur siang                       : tidak pernah
Tidur malam                     : 6 jam
Kegiatan sehari – hari        : ibu melakukan kegiatan sehari – hari sebagai PRT
d.       Pola personal hygiene
Mandi                              : 2 x sehari
Keramas                          : 2 hari sekali
Gosok gigi                        : 2 x sehari
Ganti baju                        : 2 x sehari
Ganti pakaian dalam         : 2 x sehari
7.    Data Psikososial Spiritual
Ibu mengatakan mendapat dukungan dari suami dan keluarga terhadap kehamilan

B.   Data Objektif
1.       Keadaan umum : lemah
2.       Kesadaran : composmentis
3.       Tanda vital
TD : 90/70 mmhg                  Respirasi : 23X/menit
Nadi : 100x/menit                  Suhu : 36°c


4.       BB saat ini : 45 kg
TB : 155 cm
Lila : 24 cm
IMT : 18.75 ( normal )


5.       Pemeriksaan fisik ( inspeksi, palpasi, perkusi )
a.       Kepala : rambut hitam, tidak rontok,
b.       Telinga : simetris, tidak ada sekret, tidak ada gangguan pendengaran
c.       Mata : konjungtiva putih, sclera putih
d.       Hidung : bersih, tidak ada polip
e.       Mulut : warna bibir pucat, bibir kering
f.        Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe
g.       Dada : simetris, payudara tampak membesar, hiperpigmentasi aerola
h.       Perut
·         Inspeksi : perut mengecil, pembesaran tidak sesuai umur kehamilan, tidak ada bekas operasi, ada linea nigra dan striae gravidarum
·         Palpasi : Leopold 1 TFU 2 jari diatas symphisis, balotemen positif
DJJ : terdengar positif, frekuensi 90 x/menit, teratur di punctum maksimum 3 jari di bawah kiri perut
i.         Ekstremitas atas : kuku pucat, tidak ada oedema, reflek patella positif
Ekstremitas bawah : kuku pucat, tidak ada varises, tidak ada oedema, reflek patella positif
j.         Genital : adanya pengeluaran darah dari vagina
k.       Anus : tidak ada hemoroid
C.  Data Penunjang
Tanggal 23 Maret 2013
Hb 10  gr %
USG : + plasenta sirkumvalata dan + stress janin
      II.            Interpretasi Data
A.   Diagnosa Kebidanan
Ny. J umur 24 tahun G P A umur kehamilan 20 minggu 1 hari dengan plasenta sirkumvalata
DS :
1.       Ibu mengatakan  berumur 24 tahun
2.       Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama ( G P A )
3.       HPHT tanggal 2 November 2012
4.       Ibu mengatakan keluar darah dari kemaluannya sejak 1 hari yang lalu
DO :
1.       Hasil pemeriksaan tanda vital
TD   : 90/70 mmhg                Respirasi          : 23X/menit
Nadi : 100x/menit                  Suhu                 : 36°c
2.       Hasil pemeriksaan fisik
1.    Mata : konjungtiva pucat
2.    Mulut : warna bibir pucat
3.    Palpasi : Leopold 1 TFU 2 jari diatas symphisis, balotemen positif
DJJ : terdengar positif, frekuensi 90 x/menit, terdengar lemah di punctum maksimum 3 jari di bawah kiri perut
4.    Genetalia : keluar bercak merah
5.       Hasil pemeriksaan penunjang
Hb 10  gr %
USG : + plasenta sirkumvalata dan + stress janin
B.   Masalah
Ibu tampak cemas
C.  Kebutuhan
Komunikasi interpersonal edukasi ( KIE ) untuk mengurangi kecemasan pada ibu
    III.            Identifikasi Diagnosa / Masalah Potensial


Pada Ibu
1.       Keguguran
2.       Persalinan prematur
3.       Solusio plasenta
4.       Anemia ringan
5.       Perdarahan
Pada Janin
Kematian janin dalam rahim


    IV.            Tindakan Antisipasi / Segera
Kolaborasi dengan dokter Sp.OG
      V.            Perencanaan
Tanggal             : 23 Maret 2013
Jam                  : 09.30
1.       Lakukan komunikasi interpersonal edukasi ( KIE )
2.       Baritahu hasil pemeriksaan
3.       Beri tablet Fe penambah darah
4.       Beri KIE tentang plasenta sirkumvalata dan bahayanya
5.       Ingatkan ibu untuk memperhatikan kebutuhan nutrisi dan cairan
6.       Ingatkan ibu tentang pola istirahat
7.       Anjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang atau bila ada keluhan
    VI.            Implementasi
Tanggal             : 23 Maret 2013
Jam                  : 09.45
1.       Melakukan komunikasi interpersonal dengan ibu, agar tercipta suasana yang nyaman serta untuk membina hubungan baik dan saling percaya antara ibu dan bidan.
2.       Memberitahu hasil pemeriksaan bahwa kondisi ibu tidak dalam keadaan baik
3.       Memberikan tablet penambah darah / Fe pada ibu
4.       Memberikan KIE tentang pengertian plasenta sirkumvalata dan bahayanya bagi ibu dan janin
5.       Mengingatkan ibu untuk memperhatikan kebutuhan nutrisi dan cairan dengan makan makanan yang sehat dan bergizi secara teratur  seperti nasi, lauk pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan, serta minum air putih 8-9 gelas sehari, bila perlu susu 1 gelas sehari, tidak ada pantangan makanan apapun bagi ibu.
6.       Mengingatkan ibu untuk memperhatikan pola istirahat dengan beristirahat ketika merasa lelah, tidak bekerja terlalu berat, tidur siang 1-2 jam sehari dan tidur malam 7-8 jam sehari.
7.       Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang atau bila ada keluhan
  VII.            Evaluasi
Tanggal             : 23 Maret 2013
Jam                  : 10.15
1.       Ibu sudah tidak tampak cemas lagi dengan keadaan dirinya
2.       Ibu mengerti dengan hasil pemeriksaannya
3.       Ibu mengerti tentang plasenta sirkumvalata dan bahayanya
4.       Ibu sudah diberikan tablet Fe untuk dikonsumsi setiap hari sebagai penambah darah
5.       Ibu mengerti dan bersedia mengikuti penjelasan bidan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairannya secara teratur  seperti nasi, lauk pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan, serta minum air putih 8-9 gelas sehari, bila perlu susu 1 gelas sehari
6.       Ibu mengerti dan bersedia untuk memenuhi pola istirahatnya untuk mencegah kelelahan yang berlebihan dengan tidur siang 1-2 jam sehari dan tidur malam 7-8 jam sehari.
7.       Ibu bersedia melakukan kunjungan ulang atau bila ada keluhan



PENUTUP

A.      Kesimpulan
Plasenta Sirkumvalata  adalah  plasenta  yang pada permukaan fetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Cincin ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan jaringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh ke samping di bawah desidua.
Kasus pada Ny. J yang mengalami plasenta sirkumvalata berada pada risiko yang sangat tinggi untuk melahirkan bayi prematur atau keguguran. Ketika plasenta sirkumvalata terus mengalami perkembangan kurva dan meringkuk di sebagian besar kehamilan ada kemungkinan bahwa plasenta akan terlepas dan bayi perlu dikirimkan segera melalui operasi caesar. Jika plasenta terlepas sebelum 25 minggu kehamilan, ada kemungkinan besar keguguran. Jika janin seperti pada kasus Ny. J maka perlu dilakukan USG rutin setidaknya sebulan sekali supaya janin yang dikandungnya dapat diselamatkan dan tidak beresiko tinggi terhadap keguguran, kematian janin dalam rahim, solusio plasenta, dan persalinan prematur.

B.      Saran
1.       Bagi mahasiswa kebidanan agar senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya untuk menurunkan angka mortalitas dan morbiditas ibu dan anak.
2.       Bagi ibu yang hamil khususnya Ny. J dapat lebih memperhatikan keadaan dirinya dan janinnya supaya dapat mempertahankan janin yang dikandungnya dengan sehat dan lebih memperhatikan penjelasan dan saran dari dokter maupun bidan.








DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo,Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo
Tiran, Denise. 2006. Kamus Saku Bidan. Jakarta : EGC













LAMPIRAN
1.       Masukan dari Titis Saharani
·         Melengkapi penulisan Latar Belakang Masalah dan Tujuan pada BAB 1
·         Melengkapi penulisan keluhan ibu untuk dimasukkan ke dalam data subjektif pada interpretasi data
·         Melengkapi penulisan pemeriksaan genetalia untuk dimasukkan ke dalam hasil pemeriksaan fisik pada data objektif di interpretasi data
Semua masukan sudah kami terima dan sudah kami perbaiki untuk revisi.

2.       Pertanyaan dari Helen Puspa Sari
·         Berapa cc kah darah yang keluar dari vagina ibu dan berwarna apa ?
Darah yang keluar dari vagina ibu hanya berupa bercak merah yang jumlahnya tidak dapat diketahui berapa cc secara pasti.
·         Mengapa pada perencanaan dan implementasi tidak dilakukan tindakan untuk memperbaiki keadaan umum ibu yang lemah? Apakah ibu akhirnya di rawat inap atau pulang padahal ibu dalam keadaan lemah ?
Keadaan umum ibu dalam kasus tersebut disebabkan karena pola makan dan pola istirahatnya yang sangat kurang sehingga mengakibatkan keadaan fisik ibu dalam keadaan lemah, hal itu dapat diketahui juga karena ibu selama hamil tidak pernah minum tablet Fe. Dan bukan karena ibu dengan diagnosa plasenta sirkumvalata tersebut sehingga dalam perencanaan dan implementasipun kita hanya melakukan pemberian tablet Fe penambah darah dan memberikan KIE tentang kebutuhan nutrisi dan cairan secara teratur  seperti nasi, lauk pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan, serta minum air putih 8 - 9 gelas sehari, bila perlu susu 1 gelas sehari dan pola istirahat dengan tidur siang 1 - 2 jam sehari dan tidur malam 7 - 8 jam sehari. Ibu dengan kondisi seperti pada kasus tidak perlu di rawat inap karena dalam pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda – tanda syok.
·         Apa saja tanda dan gejala plasenta sirkumvalata yang lebih spesifik sedangkan dalam teori tidak ada tanda dan gejala klinis yang disebutkan secara khusus ?
Pada ibu hamil yang positif terkena plasenta sirkumvalata dari hasil pemeriksaan fisik dapat diberikan hasil tanda dan gejala seperti pergerakan janin berkurang, keluarnya darah dari kemaluan, perut terasa tegang dan kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat dan pandangan berkunang-kunang.

3.       Pertanyaan dari Sri Supeni
Mengapa DJJ hanya 130 x/menit dan dapat dikatakan lemah ?
Pada pemeriksaan fisik ibu dengan plasenta sirkumvalata melalui USG tes stress janin dapat di ambil kesimpulan bahwa DJJ pada ibu dengan plasenta sirkumvalata terdengar lemah, hal ini dapat ditegakkan dengan adanya hasil positif tes stress janin yang dilakukan dokter seperti pada kasus diatas. Kami mengambil frekuensi DJJ 90 x/menit karena janin mengalami stress janin bukan 130 x/menit. Dan kami sudah memperbaikinya dalam revisi.

4.       Pertanyaan dari Fransiska Thesawati D
Untuk apakah USG rutin dilakukan ?
Sebenarnya dalam teori disebutkan bahwa ibu dengan plasenta sirkumvalata dianjurkan untuk melakukan USG rutin untuk mengetahui perkembangan plasenta sirkmvalata ini dapat mengakibatkan kematian janin atau komplikasi lain, dengan dilakukannya USG rutin dapat diketahui apakah nanti akhirnya janin akan selamat untuk dilahirkan meskipun dengan jalan ceasar atau dilakukan kuretase karena mengakibatkan kematian janin dalam kandungan. Dalam kasus diatas memang tidak memungkinkan dilakukan USG rutin karena faktor ekonomi dari ibu maupun suami, sehingga kami sebagai bidan dalam kasus tersebut hanya dapat memantau perkembangan janinnya melalui pemeriksaan pada saat kunjungan ulang ibu, oleh sebab itu kami tidak memasukkan ke dalam perencanaan dan implementasi untuk menganjurkan ibu melakukan USG rutin karena hal tersebut tidak memungkinkan yang sudah kami perbaiki dalam revisi makalah ini.