ASUHAN KASUHAN KEHAMILAN DENGAN PENYAKIT JANTUNG RSUD PURWOREJO

Penyakit jantung adalah penyebab kematian tersering ketiga pada wanita usia 25 dan 44 tahun. Oleh karena relatif sering terjadi pada wanita subur, penyakit jantung menjadi penyulit pada sekitar 1-4% dari kehamilan pada perempuan-perempuan yang tanpa gejala kelainan jantung sebelumnya.Karena setiap kehamilan mempengaruhi sistem kardiovaskular ibu.
Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas, sebelum terjadinya kehamilan sebaiknya dilakukan konseling pada ibu dengan penyakit jantung.
Kehamilan dengan penyakit jantung saling mempengaruhi karena kehamilan akan meperberat penyakit jantung yang diderita dikarenakan saat hamil mulai minggu ke enam volume darah ibu semakin meningkat sampai 50% disebabkan oleh proses pengenceran darah. Aliran darah akan lebih banyak dipompakan ke peredaran darah rahim melalui plasenta untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan janin sehingga kerja jantung menjadi lebih berat.

Manajemen persalinan baik normal maupun seksio sesaria dalam anestesi regional ataupun umum merupakan keadaan yang membahayakan bagi ibu hamil dengan penyakit jantung maupun bagi janinnya. Adapun perawatan dan asuhan selama persalinan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
Kala I, Pemantauan ketat terhadap ibu dan janin.Memberi oksigen bila terlihat adanya sianosis.
Kala II, Prose persalinan ini tergantung pada klasifikasinya yaitu sebagai berikut :
Kelas I, Persalinan dapat dilakukan secara spontan.Namun harus diawasi dengan ketat.
Kelas II, Persalinan dapat dilakukan secara spontan.Namun harus diawasi dengan ketat.
Kelas III dan IV, Sebaiknya mencegah ibu untuk mengedan, kemudian kolaborasi dengan dokter untuk pertolongan menggunakan ekstraksi forsep.Serta selama kala II bagian kardiologi harus mendampingi.

Perawatan dan asuhan selama Nifas yaitu dalam 24 jam pertama pasca-persalinan, pemantauan tanda dekompensasi tetap dilakukan secara ketat. Bila keaadaan pasien stabil, maka boleh pulang setelah 7 hari perawatan dan tetap kontrol setelah keluar dari rumah sakit. Pada masa nifas, kontrasepsi harus diberikan : dalam kondisi stabil berkolaborasi dengan dokter untuk melakukan kontap (tubektomi).

Pada ibu dapat terjadi gagal jantung kongestif, edema paru, hingga kematian.Dapat terjadi abortus pada kehamilan muda.Pada janin dapat terjadi lahir prematur, BBLR, hipoksia, gawat janin, lahir mati, nilai APGAR rendah, dan pertumbuhan janin terhambat.

Pada kelas I dan II pengawasan pada kala I setiap 10-15 menit dan kala II tiap 10 menit. Bila terjadi takikardi, takipnea, dan sesak napas ( ancaman gagal jantung), berikan digitalis berupa suntikan sedilanid intravena dengan dosis awal 0,8 mg. dapat diulang 1-2 kali dengan selang 1-2 jam. Selain itu dapat diberikan oksigen,morfin (10-15mg) dan diuretik.
Pada kala II anak dapat dilahirkan secara spontan bila tidak ada gagal jantung dan ibu dilarang meneran.Bila telah berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran, akhiri dengan ekstraksi cunam.  Tidak boleh dipakai ergometrin karena kontraksi uterus yang bersifat tonik akan menyebabkan pengembalian darah ke sirkulasi sistemik dalam jumlah besar.
Pasien harus dirawat sampai hari ke-14, mobilisasi dilakukan secara bertahap dan harus dijaga juga pencegahan infeksinya.

Pada kelas III dan IV pemberian oksitosin cukup aman.Umumnya persalinan pervaginam lebih aman, namun kala II harus diakhiri dengan cunam setelah syarat-syaratnya terpenuhi atau vakum.Setelah kala III selesai, awasi dengan ketat untuk menilai terjadinya dekompensasi jantung atau edema paru.Pada kedua kelas ini dilarang melakukan laktasi.
Operasi pada jantung untuk memperbaiki fungsi sebaiknya dilakukan sebelum hamil. Tetapi jika telah hamil saat yang paling baik adalah trimester II, namun berbahaya bagi janinnya karena setelah operasi harus diberikan obat anti pembekuan terus-menerus dan akan menyebabkan bahaya perdarahan saat persalinan.

Ini tergantung klasifikasi, usia, penyulit lain yang tidak berasal dari jantung, penatalaksaan, dan kepatuhan pasien. Angka kematian berkisar 1-5%, bagi yang berat 15%.Kelainan yang paling sering menyebabkan kematian adalah edema paru akut pada stenosis mitral.


Penyakit jantung merupakan penyebab kematian maternal ketiga dan penyebab utama kematian dalam penyebab kematian maternal nonbstetrik.Karena setiap kehamilan mempengaruhi sistem kardiovaskular ibu.Penyakit jatung pada kehamilan ini dapat mempengaruhi petumbuhan dan perkembangan janin. Penyakit jantung pada kelas I dan II tidak memerlukan pengobatan tambahan dan boleh melanjutkan kehamilannya, tetapi untuk kelas III dan IV harus dirawat dirumah sakit dan untuk kehamilannya sebenarnya tidak boleh melanjutkan karena terlalu berisiko tetapi jika ingin melanjutkan harus terus berbaring dan tidak boleh melakukan aktifitas karena mempertimbangkan abortus terapeutik pada kehamilan di bawah 12 minggu.

Dalam menanggulangi penyakit jantung pada ibu hamil, ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikan sangat penting dilakukan dengan cermat dan efisiensi pada situasi yang tepat.Selain itu keamanan dan kenyamanan fisik serta psikologis dari pasien harus dilindungi dengan baik guna mengurangi tingkat kecemasan dari pasien serta menminimalkan stressor dan memaksimalkan fungsi jantung.
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. P.T. Bina pustaka sarwono prawirohardjo: Jakarta
Mansjoer, Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kebidanan. Media Aesculapius: Jakarta
Fadlun, dkk. 2012. Asuhan Kebidanan Patologis.  Salemba Medika: Jakarta
Marmi, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Patologi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta