Adanya
riwayat asma sebelumnya, riwayat penyakit alergik seperti rinitis alergik, dan keluarga
yang menderita penyakit alergik, dapat memperkuat dugaan penyakit asma. Selain
hal-hal di atas, pada anamnesa perlu ditanyakan mengenai faktor pencetus
serangan.
Penemuan
pada pemerikasaan fisik penderita asma tergantung dari derajat obstruksi jalan
nafas. Ekspirasi memanjang, mengi, hiperinflasi dada, takikardi, pernapasan
cepat sampai sianosis dapat dijumpai pada penderita asma dalam serangan. Dalam
praktek tidak sering ditemukan kesulitan dalam menegakkan diagnosis asma,
tetapi banyak pula penderita yang bukan asma menimbulkan mengi sehingga
diperlukan pemeriksaan penunjang.
Penanganan Asma Selama
Kehamilan dan Persalinan
Penanganan penderita asma selama
kehamilan bertujuan untuk menjaga ibu hamil sedapat mungkin bebas dari gejala
asma, walauoun demikian eksaserbasi akut selalu tak dapat dihindari.
Pengobatan yang harus diusahakan
adalah :
Menghindari terjadinya gangguan pernapasan melalui
pendidikan terhadap penderita, menghindari pemaparan terhadap alergen, dan
mengobati gejala awal secara tepat.
Menghindari terjadinya perawatan di unit gawat darurat
karena kesulitan pernapasan atau status asmatikus, dengan melakukan intervensi
secara awal dan intensif.
Mencapai suatu persalinan aterm dengan bayi yang sehat,
di samping melindungi keselamatan ibu.
Dalam penanganan penderita asma diperlukan
individualisasi penanganan, karena penanganan suatu kasus mungkin berbeda
dengan kasus asma yang lain, dalam memulai suatu perawatan obstetri.
Obat-obat yang digunakan untuk
pengobatan asma secara garis besar dapat dibagi dalam 5 kelompok utama yaitu
beta adrenergik, methylxanthine, glukokortikoid, cromolyn sodium dan anti
kolinergik, di samping itu terdapat obat-obat lain yang sering digunakan
sebagai terapi tambahan pada penderita asma seperti ekspektoran dan antibiotik.
Dalam golongan ini epinefrin
merupakan obat yang paling sering digunakan.
Epinefrin menstimulasi reseptor
beta-2 menyebabkan bronkodilatasi, tetapi juga menstimulasi reseptor alfa dan
beta-1 yang menyebabkan terjadinya vasokonstriksi perifer dan takikardia baik
pada ibu maupun janin, juga menyebabkan fetal distres, ini merupakan kelemahan
teoritis penggunaan epinefrin dalam kehamilan, untungnya epinefrin mempunyai waktu
paruh pendek dan belum ada laporan yang menunjukkan adanya efek jangka panjang
terhadap janin pada penggunaannya dalam kehamilan.
Terbutalin merupakan beta agonis
yang sering digunakan untuk terapi tokolitik pada persalinan prematur. Dalam
pengobatan asma dosisnya sebaiknya dikurangi pada saat mendekati aterm,
meskipun tidak terdapat laporan yang menunjukkan adanya penundaan bermakna
dalam onset persalinan normal, bila obat ini digunakan sebagai terapi inti asma
standar.
Teofilin dengan berbagai garamnya
termasuk dalam golongan ini. Mekanisme teofilin menimbulkan bronkodilatasi
tidak jelas, diduga melalui inhibisi kompetitif terhadap enzim fosfodiesterase,
sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan kadar siklik AMP karena degradasinya
yang menurun. Aminofilin merupakan suatu garam dietileniamin dari teofilin dan
merupakan satu-satunya obat golongan xanthin yang dapat diberikan secara
parenteral
Kortikosteroid digunakan sejak lama
untuk pengobatan asma. Kortikosteroid bukan merupakan bronkodilator, tetapi
bermanfaat dalam mengarungi inflamasi pada saluran napas. Umumnya disepakati
memberikan steroid seawal mungkin pada penderita dengan serangan asma akut
berat. Pemakaian kortikosteroid selama kehamilan tidak menyebabkan meningkatnya
resiko komplikasi baik pada janin maupun ibu.
Cromolyn sodium bukan merupakan
bronkodilator, efek terapeutik utamanya adalah inhibisi terhadap degranulasi
sel mast, sehingga mencegah terjadinya pelepasan mediator kimia untuk reaksi
anafilaksis. Cromolyn berguna baik untuk asma alergik maupun non alergik.
Obat antikolenergik seperti atropin
sulfat dapat memberikan efek bronkodilatasi ada penderita asma, tetapi
penggunaannya menjadi terbatas karena efek samping yang tidak diinginkan.
Golongan antikolinergik yang lebih sering digunakan adalah ipratropium bromida,
terbukti efektif dan kurang menimbulkan efek yang tidak diinginkan.
Efek penggunaan obat anti asma dalam
kehamilan terhadap janin Umumnya obat-obat anti asma yang biasanya dipergunakan
relatif aman penggunaannya selama kehamilan, jarang dijumpai adanya efek
teratogenik pada janin akibat penggunaan obat anti asma.
Dalam penanganan penderita asma
dengan kehamilan, dan tidak dalam serangan akut, diperlukan adanya kerja sama
yang baik antara ahli kebidanan dan ahli paru. Usaha-usaha melalui edukasi
terhadap penderita dan intervensi melalui pengobatan dilakukan untuk
menghindari timbulnya serangan asma yang berat.
Pada
kehamilan dengan asma yang terkontrol baik, tidak diperlukan suatu intervensi
obstetri awal. Pertumbuhan janin harus dimonitor dengan ultrasonografi dan
parameter-parameter klinik, khususnya pada penderita-penderita dengan asma
berat atau yang steroid dependen, karena mereka mempunyai resiko yang lebih
besar untuk mengalami masalah pertumbuhan janin. Onset spontan persalinan harus
diperbolehkan, intervensi preterm hanya dibenarkan untuk alasan obstetrik.Karena
pada persalinan kebutuhan ventilasi bisa mencapai 20 I/menit, maka persalinan
harus berlangsung pada tempat dengan fasilitas untuk menangani komplikasi
pernapasan yang berat; peneliti menunjukkan bahwa 10% wanita memberat gejala
asmanya pada waktu persalinan.
Selama persalinan
kala I pengobatan asma selama masa prenatal harus diteruskan, ibu yang sebelum
persalinan mendapat pengobatan kortikosteroid harus hidrokortison 100 mg
intravena, dan diulangi tiap 8 jam sampai persalinan. Bila mendapat serangan
akut selama persalinan, penanganannya sama dengan penanganan serangan akut
dalam kehamilan seperti telah diuraikan di atas.
Pada
persalinan kala II persalinan per vaginam merupakan pilihan terbaik untuk
penderita asma, kecuali jika indikasi obstetrik menghendaki dilakukannya seksio
sesarea. Jika dilakukan seksio sesarea. Jika dilakukan seksio sesarea lebih
dipilih anestesi regional daripada anestesi umum karena intubasi trakea dapat
memacu terjadinya bronkospasme yang berat.
Pada
penderita yang mengalami kesulitan pernapasan selama persalinan pervaginam,
memperpendek, kala II dengan menggunakan ekstraksi vakum atau forceps akan
bermanfaat.
Bila terjadi
pendarahan post partum yang berat, prostaglandin E2 dan uterotonika lainnya
harus digunakan sebagai pengganti prostaglandin F2(x) yang dapat menimbulkan
terjadinya bronkospapasme yang berat.
Dalam
memilih anestesi dalam persalinan, golongan narkotik yang tidak melepaskan
histamin seperti fentanyl lebih baik digunakan daripada meperidine atau morfin
yang melepas histamin.
Bila persalinan
dengan seksio sesarea atas indikasi medik obstetrik yang lain, maka sebaiknya
anestesi cara spinal.
Penanganan asma post partum dimulai
jika secara klinik diperlukan. Perjalanan dan penanganan klinis asma umumnya
tidak berubah secara dramatis setelah post partum. Pada wanita yang menyusui
tidak terdapat kontra indikasi yang berkaitan dengan penyakitnya ini.
Teofilin bisa dijumpai dalam air susu ibu, tetapi
jumlahnya kurang dari 10% dari jumlah yang diterima ibu. Kadar maksimal dalam
air susu ibu tercapai 2 jam setelah pemberian, seperti halnya prednison,
keberadaan kedua obat ini dalam air susu ibu masih dalam konsentrasi yang belum
mencukupi untuk menimbulkan pengaruh pada janin.
Asma dalam
kehamilan adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel mast dan
eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa sesak napas, dada terasa
berat, dan batuk yang ditemukan pada wanita hamil.
Asma
bronkiale merupakan penyakit obstruksi saluran nafas yang sering dijumpai pada
kehamilan dan persalinan, diperkirakan 1%-4% wanita hamil menderita asma. Efek
kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi.
Kepada mahasisiwi kebidanan guna bangsa agar lebih
dapat memahami jenis penyakit yang menyertai kehamilan dan persalinan khususnya
asma.
Bagi petugas kesehatan khususnya bidan dapat
mengetahui tindak lanjut penanganan penyakit yang menyertai kehamilan dan
persalinan khususnya asma, dan bidan dapat mengenali tanda dan gejala
terjadinya asma dalam kehamilan dan persalinan
DAFTAR PUSTAKA
Helen,varney.2007.Asuhan
Kebidanan.2003.Penerbit Buku Kedokteran : EGC
Sarwono.2009.Ilmu Kebidanan.Jakarta : PT.Bina Pustaka
Sarwono Prawirahardjo