Proses kehamilan, persalinan, masa
nifas dan laktasi mempunyai pengaruh kurang menguntungkan terhadap jalannya
penyakit. Hal ini disebabkan oleh karena perubahan-perubahan dalam kehamilan
yang kurang menguntungkan bagi proses penyakit dan daya tahan tubuh yang turun
akibat kehamilan.
Penyebab tuberkulosis adalah
Mycobacterium tuberkulosis, sejenis kuman berbentuk batang dengan panjang
1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um. Sebagian besar kuman ini terdiri dari asam
lemak(Lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan
terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman dapat tahan hidup padaa udara
kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahun-tahun dalam lemari es). Hal
ini terjadi karena kuman yang ada pada sifat yang dormant, yang kemudian dapat
bangkit kembali dan menjadi tuberkulosis aktif
kembali. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa
kuman lebih menyenangi jaringan yang kandungan oksigennya tinggi. Cara
penularan melalui udara pernafasan dengan menghirup partikel kecil yang
mengandung bakteri tuberkulosis, minum susu sapi yang sakit tuberkulosis. Masa
tunas berkisar antara 4-12 minggu. Masa penularan terus berlangsung selama sputum
BTA penderita positif.
Terjadi
karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk kering
kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan
sputum). Pada keadaan lanjut berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah
yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada ulkus dinding bronkus.
Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan yang aneh di dalam paru-paru meliputi: penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag, pembentukan dinding di sekitar lesi oleh jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut dengan tuberkel. Banyaknya area fibrosis menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan untuk ventilasi paru dan oleh karena itu menurunkan kapasitas vital, berkurangnya luas total permukaan membrane respirasi yang menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru secara progresif, dan rasio ventilasi-perfusi yang abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi darah.
Pengaruh
TB Paru Pada Kehamilan
Tidak selalu mudah untuk mengenali
ibu hamil dengan tuberkulosis paru, apalagi penderita tidak menunjukkan
gejala-gejala yang khas seperti badan kurus, batuk menahun atau hemaptoe. Tuberkulosis
aktif tidak membaik atau memburuk dengan adanya kehamilan. Tetapi kehamilan
bisa meningkatkan risiko tuberkulosis inaktif terutama pada post partum.
Reaktifasi tuberkulosis paru yang inaktif juga tidak mengalami peningkatan
selama kehamilan. Angka reaktifasi tuberkulosis paru-paru kira-kira 5-10% tidak
ada perbedaan antara mereka yang hamil maupun tidak hamil.
TB Paru Pada
Kehamilan
Prognosis bagi wanita hamil dengan
penyakit tuberculosis yang aktif telah
mengalami perbaikan yang luar biasa selama waktu 30 tahun terakhir ini.
Beberapa preparat tuberculosis urutan pertama tidak terlihat memberikan efek
yang merugikan bagi janin.
Jika seorang wanita positif
tuberculosis, riwayat penyakit harus dianamnesis dengan cermat dan pemeriksaan
fisik yang lengkap harus dilakukan dengan melakukan foto thorks dan bagian
abdomen dilindungi ketika pemeriksaan kardiologi itu dilakukan. Jika hasilnya negative,
pengobatan tidak diberikan sampai sesudah persalinan bayi, yaitu dengan
pemberian isoniazid selama satu tahun sebagai tindakan profilaksis. Bayi yang
lahir dari ibu dengan tuberculosis cukup rentan terhadap penyakit tersebut.
Karena itu bayi harus diisolasi segera dari ibunya yang dicurigai tuberculosis
aktif. Karena adanya risiko untuk terjadinya penyakit tuberculosis yang aktif
pada bayi, maka terapi profilaksis dengan isoniazid ataukah tindakan vaksinasi
BCG, keduanya mempunyai manfaat yang cukup besar.
Pengaruh
TB Paru Pada Janin
Bakteriemia selama kehamilan dapat
menyebabkan infeksi plasenta, sehingga janin pun dapat terinfeksi, kalaupun ada
kejadian ini jarang tetapi fatal. Pada setengah kasus infeksi didapatkan
penyebaran hematogen pada hati atau paru melalui vena umbilikalis, setengah
kasus lagi infeksi pada bayi disebabkan aspirasi secret vagina yang terinfeksi
selama proses persalinan.
Infeksi neonatal tidak mungkin
terjadi jika ibunya yang menderita tuberculosis aktif telah berobat minimal 2
minggu sebelum bersalin atau kultur BTA mereka negative.
Pengobatan tuberculosis aktif pada
kehamilan hanya berbeda sedikit dengan penderita yang tidak hamil. Ada 11 obat
tuberkulosis yang terdapat di Amerika Serikat, 4 diantaranya dipertimbangkan
sebagai obat primer karena keefektifannya dan toleransinya pada penderita, obat
tersebut adalah isoniazid, rifampisin, ethambutol dan streptomycin. Obat
sekunder adalah obat yang digunakan dalam kasus resisten obat atau intoleransi
terhadap obat, yang termasuk adalah paminasalisilic acid, pyrazinamide,
cycloserine, ethionamide, kanamycin, voimycin dan capreomycin.
Pengobatan selama setahun dengan
isoniazid diberikan kepada mereka yang tes tuberkulin positif, gambaran
radiologi atau gejala tidak menunjukkan gejala aktif. Pengobatan ini mungkin
dapat ditunda dan diberikan pada postpartum. Walaupun beberapa penelitian tidak
menunjukkan efek teratogenik dari isoniazid pada wanita postpartum. Beberapa
rekomendasi menunda pengobatan ini sampai 3-6 bulan post partum.
Isoniazid termasuk kategori obat C
dan ini perlu dipertimbangkan keamanannya selama kehamilan. Alternatif lain
dengan menunda pengobatan sampai 12 minggu pada penderita asimtomatik. Karena
banyak terjadi resistensi pada pemakaian obat tunggal, maka sekarang
direkomendasikan cara pengobatan dengan menggunakan kombinasi 4 obat pada
penderita yang tidak hamil dengan gejala tuberkulosis. Ini termasuk isoniazid,
rifampisin, pirazinamide atau streptomycin diberikan sampai tes resistensi
dilakukan. Beberapa obat tuberkulosis utama tidak tampak pengaruh buruknya
terhadap beberapa janin. Kecuali streptomycin yang dapat menyebebkan ketulian
kongenital, maka sama sekali tidak boleh dipakai selama kehamilan.
Pengobatan ini diberikan minimal 9
bulan, jika resisten terhadap obat ini dapat dipertimbangkan pengobatan dengan
pyrazinamide. Selain itu pyrazinamide 50 mg/hari harus diberikan untuk mencegah
neuritis perifer yang disebabkan oleh isoniazid. Pada tuberkulosis aktif dapat
diberikan pengobatan dengan kombinasi 2 obat biasanya digunakan isoniazid 5
mg/kg/hari (tidak lebih 300 mg/hari) dan ethambutol 15 mg/kg/hari. Pengobatan
dilanjutkan sekurang-kurangnya 17 bulan untuk mencegah relaps. Pengobatan ini
tidak dianjurkan jika diketahui penderita telah resisten terhadap isoniazid.
Jika dibutuhkan pengobatan dengan 3 obat atau lebih, dapat ditambah dengan
rifampisin tetapi stretomycin sebaiknya tidak digunakan. Terapi dengan
isoniazid mempunyai banyak keuntungan (manjur, murah, dapat diterima penderita)
dan merupakan pengobatan yang aman selama kehamilan.
Kehamilan dan
tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor
tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Efek TB
pada kehamilan tergantung pada beberapa faktor antara lain tipe, letak dan
keparahan penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis,
status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan
kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB.
Jika kuman TB menyerang
paru, maka risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya
pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke
janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital).
Peran bidan dalam
menangani klien dengan TB paru adalah dengan memberikan konseling mengenai
definisi, penyebab, cara pencegahan dan penularan serta terapi TB Paru, juga
menjelaskan pada klien tentang dampak yang ditimbulkan terhadap kehamilan. Di
samping itu juga menawarkan alternatif solusi dan melakukan asuhan
kebidanan untuk wanita TB Paru masa prakonsepsi dalam mempersiapkan
kehamilannya.
Setiap pasangan yang akan merencanakan
kehamilan, hendaknya berkonsultasi dulu mengenai kondisi kesehatan kepada
tenaga kesehatan, termasuk bidan. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi
penyakit/kelainan yang mungkin dialami calon orang tua, sehingga dapat
melakukan tindakan yang lebih komprehensif dalam mengantisipasi dampak yang
mungkin ditimbulkan dari penyakit yang diderita, baik bagi ibu maupun janin
yang dikandungnya.
Daftar
Pustaka
Marmi, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan
Patologis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Ahmad haryanto. Fadlun. 2012. Asuhan
kebidanan patologis. Jakarta:salemba medika
http://ikm-uii.net46.net/download/_laporan_pendek/short%20report_TB_
2009.pdf